Mewarnai Hamparan Makna Hidup
Live is mysterious,
hidup adalah pilihan kita saat belum terlahir didunia ini, tapi kita tidak akan bisa memilih untuk dilahirkan lewat siapa, dengan status sosial yang bagaimana, dengan materi yang sebesar apa dan dengan kasih sayang seluas apa. Kita sendiri yang akan menentukan jalan, yang membangun peta-peta penentu arah tujuan hidup, dan menjadikan semua yang sudah kita lalui menjadi bermakna. Banyak sekali makna yang terhampar dalam perjalanan kita, ada makna yang terpendam, ada makna yang tergambar jelas, ada makna yang beriringan, ada makna sebuah musibah, ada makna sebuah rahmat yang sangat besar, dan ada makna-makna lain yang mungkin belum berguna bagi kita tapi merupakan pengalaman luar biasa yang dapat merubah kehidupan orang lain.
Mendalami makna sebuah peristiwa akan membuat kita menjadi manusia-manusia tangguh, sabar, ikhlas, dan hidup dalam Zuhud (baca: kesahajaan). Karena dengan memandang makna sebuah pristiwa kita akan tahu kemana arah langkah ini, kita juga tahu dengan jelas tujuan terakhir kita.
Perjalanan hidup kita yang telah berlalu menjadi suatu diary (baca:catatan) untuk kita pegang selamanya. Karena manusia tak lepas dari masa lalunya, terlepas masa lalu itu merupakan hantu atau malaikat (buruk atau baik) tetap itu adalah suatu catatan yang tak akan pernah hilang selamanya.
Terkadang rasa bangga dengan sesuatu yang telah kita capai membuat lupa bahwa masih ada hari esok yang menanti, hari esok dengan segala suka duka, hari esok dengan perbedaan rizki yang kita terima, hari esok dengan kehilangan sesuatu yang paling kita cintai, dan hari esok dengan kejadian-kejadian diluar kehendak kita, bisakah kita bertahan saat itu.
Andai semua yang kita dapatkan sesempurna keinginan kita, mungkin kita akan menjadi manusia yang sangat sombong.
“keinginan adalah sumber penderitaan
tempatnya didalam pikiran
tujuan bukan utama
yang utama adalah prosesnya
kita hidup mencari bahagia
harta dunia kendaraannya
bahan bakarnya budi pekerti
itulah nasehat para Nabi”
kata-kata diatas adalah cuplikan sebuah lagu yang dilantunkan oleh “Iwan Fals”, adalah sebuah falsafah hidup untuk tidak mengesampingkan moral. Moral adalah sebuah wujud dari adanya jati diri manusia, moral ada untuk menahan keinginan-keinginan nafsu yang tak terkendali, moral adalah bahan bakar manusia untuk menjadikan hidupnya lebih berarti dan lebih dikenang saat-saat memasuki alam hampa nanti.
Moral yang terkubur oleh hasrat egois, menjadikan tubuh yang indah menjadi hina, Menjadikan otak manusia yang cemerlang menjadi suram, menjadikan hati yang bening menjadi keruh, bahkan menjadikan bejadnya jalan hidup manusia.